Categories
Uncategorized

Di bawah Kincir Angin, Ada Mayat-mayat Plastik

Saya masih berpikiran soal kebijakan di Kabupaten Jeneponto ini.

Tercermin di salah satu desa tempat saya ber-KKN–pengolahan sampah yang urak-urakan. Di selokan depan rumah tempat saya menginap, popok-popok bayi dibuang begitu saja. Seolah tak ada rasa bersalah, bekas kotoran manusia dibuang pada aliran air.

Fakta bahwa di belakang rumah adalah Posyandu, menguatkan di kepala saya kesimpulan: usaha kesehatan yang dilakukan oleh pemerintah desa sesuatu yang sia-sia.

Bila imunisasi, serta tahap pemberian makanan bergizi (yang dicetak pada spanduk anggaran desa, yang di tempel di depan kantor desa) kepada anak adalah langkah menjamin tumbuh kembangnya, kenapa tidak pemerintah juga menjamin lingkungan yang asri, karena suatu pemikiran yang melandaskan tentang jaminan kesehatan generasi mud.

Hendaknya diseimbangkan dari luar dan dalam, untuk tubuh yang tidak rentan berpenyakit akibat lingkungan kotor dan menjadi sarang nyamuk di musim hujan.

Anak-anak di desa tempatku ber-KKN bahkan sudah sejak kecil memulung di selokan-selokan; di sawah depan rumah tempatku menginap (sawah seolah menjadi tempat pembuangan akhir mereka) dan aku benci hal ini.

Alasan aku benci kota karena sejak awal aku datang telah kulihat anak-anak yang memulung dan menjadi peminta-minta, sedang hingga sekarang aku tak bisa berbuat apa-apa.

Sama halnya dengan sekarang, saat pembekalan KKN, kampus telah mengisyaratkan agar jangan mencampuri masalah dapur masyarakat sana. Fokus pada tujuan bermasyarakat dan selalu cerminkan nilai-nilai kampus dalam akhlak serta keliahaian individu dalam hal berceramah.

Terdengar seperti heroikisme yang sinting!

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *